Hei langit yang berwarna abu-abu. Aku yakin kau takkan hadir dikala senangku membutuhkanmu. Bahkan kau membawa petaka kepada dua orang yang sedang jatuh cinta di waktu yang sama, namun pada tempat yang berbeda. Setelah ku melewati jalan panjang itu, yang kulihat hanya lah sama. Berasa bangga kau bisa setangguh itu. Semua terasa lebih berbeda sekarang. Hal-hal yang dulunya bisa ku kendalikan, sekarang seperti tidak mau tahu dengan keadaaan. Sekarang aku lagi duduk di depan meja coklat dengan lagu tenang tanpa lirik. Tiap tutup mata menandakan hanya 2 kemungkinan yang akan terjadi, yang pertama adalah langsung tidur, yang kedua melihat senyummu yang terbayang-bayang sedari siang tadi. Aku ingin mengulangnya walau berkali-kali terjadi hal yang sama. Naluri menarikku untuk segera pulang karena tidak enakan dengan semua keadaan, namun hatiku merengek untuk bertahan lebih lama lagi karena perasaan nyaman, walau akhirnya naluriku yang mendominasi. Iya, itu membentuk sedikit penyesalan. Namun mengingatmu masih dekat denganku walau tak secara fisik sudah cukup membuatku tenang. Hey kamu, sangat sulit untuk bersama rasanya, tapi seagi senyum itu masih untuk dan karena ku, itu sudah sangat cukup. Hey, seandainya kau tau semua, itu akan jauh lebih baik. Selamat tidur teman...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Christopher

Menjadi 20

Surat untuk para sahabat