Teman
Percayalah aku bisa melakukan apapun demi kalian. Sebisaku aku akan membuat kalian tidak akan lelah secara fisik karena hanya itu bisaku. Maaf selalu menjadi beban. Aku tahu perasaan kalian. Dunia ini terlalu berat untuk aku jalani sendiri. Aku butuh kalian, butuh banget. Tapi setelah satu ini, mungkin satu beban kalian akan hilang. Percayalah setelah ini tidak akan ada perubahan dari pertemanan kita, hanya frekuensi pertemuan akan berkurang. Berdasarkan pengalaman, jarak bisa membuat kita semakin erat. Aku masih percaya itu.
Aku benci sama diriku sendiri, kenapa bisa sebodoh ini? Aku selalu berusaha menjadi seperti kalian, mengikuti cara kalian, tapi sampai sekarang aku engga bisa. Setelah aku tinjau ulang, lingkungan dimana aku dibentuk selama 18 tahun lalu bertolak belakang dengan lingkungan yang aku jalani 2 tahun ini. Dari situ aku memutuskan untuk tidak membenci diriku lagi, tapi menggali potensi lain yang benar-bener aku tekuni.
Terlebih khusus, partner. Entah kamu akan baca ini sendiri nanti atau engga. Aku ingin jujur, menjadi partnermu adalah keinginan paling indah yang bisa aku pikirkan selama empat tahun perkuliahan. Tapi dalam pikirku, partner itu saling bahu membahu. Partner yang ku bayangkan adalah partner yang 12 dari 24 jam per hari selalu bersama. Bayangku itu yang selalu ku usahakan untuk jadi. Tapi, bayangmu mungkin beda. Dan sangat sulit untuk melakukan penyesuaian itu. Aku ga bisa memutuskan kedepannya gimana. Ini terlalu awal untuk semua itu. Tapi sejauh ini yang aku dapati adalah lebih baik untuk tidak menjadi partner. Itu akan membawa kita akan dua pilihan, semakin dekat atau menjauh, aku tidak bisa mempresdiksi jawabannya sekarang.
Maaf ya partner, i think kebodohanku dan ketidak enakanmu itu merupakan tembok lain yang buat kita sangat jauh.
Iya, kita adalah dua manusia yang tak punya satupun kesamaan. Dan perpisahan adalah kepastian. Semoga paling tidak kita masih bisa saling kenal selamanya
Komentar
Posting Komentar